Anatominya sudah pasti punya empat kaki, dua di belakang, tapi sedikit lebih panjang sebagai ‘alat’ melompat, duanya lagi ada di depan yang lebih pendek tapi kuat untuk mengorek dan mengangkat barang-barang hasil keratan. Permainannya seputar got yang jorok, bisa masuk ke rumah, kantor, dan lubang-lubang lainya secara leluasa. Apa saja dimakan kecuali batu dan besi. Kecil imut-imut tapi serakah bukan main.
Tikus bukanlah sesuatu mahkluk langka yang jarang kita lihat di negeri ini. Malah, hewan yang mulutnya tirus ini sudah sangat akrab dengan kehidupan manusia. Dimana ada rumah, disitu ada tikus. Dimana ada kantor, disitu juga ada sang tikus. Di sawah tikus malah sangat akrab dengan pak tani, tapi sialnya kehadiran hewan gigi tonggos ini bukan malah membantu pak tani, sebaliknya malah menggerogoti tanaman pak tani yang seringkali adalah petani miskin.
Karena begitu terkenalnya tikus di dunia, maka tikus bukanlah monopoli petani. Malah, didunia maya yang yang sudah pasti tidak mungkin ada tikus yang lalu-lalang layaknya tikus di lobang sarangnya, justru pada kenyataanya ada juga tikus. Tapi ‘tikus’ yang satu ini sudah begitu canggih. Bentuk ‘tikus maya’ ini sudah pasti berkaki dua tapi untuk mendeteksi wajahnya sangatlah sulit karena memang dia beraksi di belakang layar monitor komputer. Tikus maya kerap menyambangi situs-situs transaksi keuangan dan mengolah kartu kredit siapa saja yang bisa dia bobol. Maka itu, tikus maya bukan barang baru, tikus dari ordo yang satu ini adalah jenis ‘cyber crime’ yang sangat menakutkan karena daya rusaknya sampai jutaan dollar.
Setiap saat, tikus maya selalu beraksi. Tak kenal pagi, siang dan malam lalu pagi lagi, mereka terus produktif, sangat kontras dengan tikus beneran yang kalau sudah dapat stok makanan lalu dia pulang ke sarang dan tidur. Tikus maya lebih dari itu dilakukan. Meng-hacker dan membobol kartu kredit orang-orang berduit yang melakukan transaksi di internet dan bank-bank online kapan dan dimana saja meraka mau. Uang simpanan jutaan dollar yang menjadi investasi besar seseorang atau perusahaan bisa amblas hanya dalam hitungan detik. Semua itu dilakukan oleh tikus maya. Maka kejahatan ini kerap disebut sebagai kriminalitas dunia maya (cyber crime). Cyber crime bisa menimpa siapa saja terutama pemakai internet. Memang, sasaran utama hacker jahat ini kartu kredit milik orang kaya atau kaum jetset. Tapi cyber crime juga bisa menimpa siapa saja yang kebetulan lagi lengah di dunia maya. Transaksi keuangan di rumah-rumah lelang juga menjadi incaran tikus ber-IQ tinggi ini. Rumah-rumah judi/taruhan secana online tak luput dari sasaran cyber crime.
Bahkan situs partai politik sekalipun yang membuat online vote buat para calon pemimpin bisa diolah sedemikian rupa sehingga tak jarang pemimpin yang terpilih itu adalah pemimpin yang tidak dikehendaki oleh rakyat banyak. Untuk Pilkada di Aceh nanti, berhati-hatilah bila ada parpol atau balon yang membuat situs dan me-launching tool online vote! Bisa saja hasil vote online kurang otentik alias aspal.
Hasil curian tikus maya tidak kalah hebatnya dengan para tikus yang ada di kantor-kantor pemerintahan. Jutaan rupiah? Tidak, malah bisa jutaan dollar hanya dalam sekali enter. Target tikus maya adalah siapa saja yang mempunyai website, baik itu situs pribadi maupun perusahaan kelas teri, semua bisa masuk incaran cyber crime. Sama halnya macam tikus beneran, kalau tidak ada makanan yang dia dapat, sepatu kulit bau sekalipun dia kerat habis. Begitu halnya juga tikus maya tak kenal menyerah. Tidak ada dollar? Mereka juga bisa membobol suatu situs hanya untuk membuat si pemilik situs malu besar di depan publik. Caranya, tampilan website diganti dengan gambar-gambar lucah atau sekedar gambar jari tengah tangan. Bagi yang paham apa simbol jari tengah tangan yang diarahkan kemuka seseorang tentu akan membuat muka yang bersangkutan memerah. Saran saya, jangan sekali-kali mengarahkan jari tengah Anda kearah orang bule yang lalu lalang di kota Banda Aceh!
Kejahatan dunia maya tidaklah setua kejahatan yang pernah dilakukan umat manusia didunia nyata. Tapi, kejahatan dunia maya yang lebih beraksi dengan otak ini, sangat merusak dan bahkan hanya dalam hitungan detik bisa membuat keuangan sebuah perusahaan amblas atau bangkrut seketika. Kenyataanya, para pelaku kejahatan level IQ tinggi ini tidak hanya membobol uang, mereka juga bisa menyebarkan virus mematikan yang bisa membuat personal komputer Anda hang dan tewas dalam artian menjadi rongsokan. Dunia yang semakin canggih juga melahirkan para penjahat yang beroperasi lebih canggih pula. Disini, pengetahuan mengenai ilmu komputer sekalipun mau tak mau harus dikuasai demi menghindar dari berbagai kejahatan internet yang semakin lama semakin mutakhir saja.
Kejahatan bisa terjadi dimana-mana. ”Waspadalah….waspadalah”, seru Bung Napi di salah satu stasiun TV . Mungkin kalimat seruan ini mesti kita dengar karena di internet sekalipun kejahatan bisa terjadi, sesuatu yang diluar dugaan manusia sebelumnya.
Aceh pasca tsunami konon semakin akrab dengan dunia internet dan teknologi informasi canggih lainnya. Walaupun cita-cita Kuntoro menjadikan Banda Aceh kota “hot spot” internet pertama di dunia lewat teknologi WIMAX belum jadi kenyataan, toh pengguna internet di Aceh semakin banyak selama ini. Internet Service Provider (ISP) juga menjamur. Namun jelas pengguna internet di Aceh masih banyak yang awam terhadap cara melindungi diri dari cyber crime.
Mungkin, bandit kelas teri yang bergentayangan dijalan-jalan kota tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan bandit dunia maya yang bisa menyikat uang hanya dengan ditemani segepok popcorn, segelas kopi kental dan ENTER! [Halim El Bambi]
Wah… kalau nantinya negara virtual di dunia maya lahir dan berhasil, yaitu negara nanggroe.com, maka tikus maya juga lahir…
nanti kita siapkan perangkapnya yang lebih canggih