Apa yang terbayang dalam benak kita manakala melihat seorang laki-laki yang lembut, santun, melankolis, feminim tiba-tiba berubah menjadi pembunuh sadis dan menjelma sebagai ‘monster’ keji berdarah dingin? Tentu kita gak habis percaya dengan kenyataan ini.
Kita saat ini sedang disuguhkan berita heboh yang sedang menjadi hit di media massa tentang pembunuhan berantai yang terjadi di Jombang, Jawa Timur. Pelakunya mempunyai ciri-ciri tidak jauh seperti yang saya gambarkan di awal tulisan ini. Dia adalah Very Idam Henyansah alias Ryan. Ryan tidak hanya seorang pembunuh berdarah dingin, tapi juga seorang gay. Kini berita tentang Ryan sanggup menenggelamkan berita-berita krusial lainya seperti kasus korupsi dan Pemilu 2009.
Publik kini mengarahkan pandanganya ke kasus Ryan yang beritanya sampai sekarang terus di ikuti permenit di internet maupun media elektronik. Publik menuduhnya sebagai psikopat.
Mengapa seseorang itu disebut sebagai psikopat? Kita harus merangkai dulu beberapa ciri seseorang bisa disebut sebagai psikopati. Menurut saya, seorang psikopat sering mengedepankan egonya yang tinggi dan mengangap dirinya paling hebat. Suka berbohong, jiwa pemberontak, mudah tersinggung, pendendam, anti sosial, Impulsif dan sulit mengendalikan diri (kurang bisa menimbang benar dan salah setiap tindak tanduk yang dilakukanya dan masa bodoh dengan apa yang telah diperbuat yang cenderung merugikan orang lain). Hidupnya cenderung sebagai parasit dan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diinginkan. Tidak pernah merasa bersalah kendati yang dilakukanya jelas-jelas merugikan orang lain. Kepribadian psikopat juga sulit ditebak. Psikopat mudah sekali terpicu amarahnya hanya karena hal-hal kecil. Rasa cemburu berlebihan, iri, cepat naik darah juga menjadi ciri khas seorang psikopat. Selain mereka juga suka tampil mengesankan didepan orang banyak yang sebetulnya untuk menutupi kekurangan dirinya.
Psikopat tidak hanya ada dalam diri rakyat ‘nelangsa’. Tapi juga bisa hinggap dalam diri seorang pemimpin. Sejarah telah mencatat pemimpin-pemimpin psikopat yang keputusan dan tindakanya sangat kejam bahkan melebihi batas kemanusiaan. Dalam sejarah mencatat ada nama Hitler, Lenin, Stalin, Ghengis Khan, Mussolini, Polpot dan seabrek nama-nama pemimpin dunia lainya yang identik dengan pertumpahan darah.
Di Afrika ada Idi Amin yang buas bagai singa lapar dalam memusnahkan rakyat dan musuh politiknya. Idi Amin, sang psikopat dari Uganda ini tidak segan-segan membunuh siapa saja yang pernah membuat dirinya tersinggung dan bahkan mantan-mantan istrinya yang selusin itu dikuliti hanya karena menolak berhubungan seks dengan dirinya. Yang mirisnya, lusinan lawan politiknya dibantai dan kepalanya di museumkan dalam kulkas sebagai barang pajangan. Dia sangat puas hatinya setelah membunuh dan melihat darah musuhnya muncrat didepan matanya sendiri. Type Idi Amin adalah psikopat ambisius pendendam yang lupa daratan setelah berkuasa. ‘Prestasi’ membunuhnya mulai terasah manakala dia mendapat kekuasaan. Ini adalah ‘nilai plus’ bagi dirinya sejak menjadi orang nomor satu di Uganda.
Mengarah ke daratan Eropa ada Hitler yang menjelma sebagai mimpi buruk bagi bangsa Yahudi seluruh dunia. Sebelum berkuasa, Hitler adalah seorang anak yang punya masalah kejiwaan. Dia tidak mendapat kasih sayang dari ayahnya yang pemberang dan mabuk-mabukan. Dia juga mudah tersinggung dan punya rasa iri dan dendam yang akut. Dengan keperibadian mudah tersinggung inilah menjadi awal Hitler muda mendendam kepada orang-orang Yahudi yang meremehkan dan memperlakukan dirinya sebagai gembel di Polandia. Manakala Hitler telah menjadi sosok yang sukses di puncak karir politiknya (dia dipilih menjadi seorang Fuehrer dan orang paling kuat di NAZI–inipun harus melalui berbagai intrik culas) mulailah dia menunjukkan rasa dendam kesumatnya kepada bangsa yang dia anggap rendah lainya dengan satu kata perintah: Houlocost! Inilah puncak kekejaman seorang psikopat semacam Hitler yang diluar perkiraan akal sehat. Dia bangga membunuh jutaan orang Yahudi yang dulu menganggap dirinya sebagai ‘gembel tak berkualitas’. Kini dengan kitab seramnya, ‘MeinKamp’ Hitler leluasa berbuat apa saja atas nyawa manusia. Hitler adalah simbol kekejaman manusia abad moderen yang tak terbantahkan.
Beberapa sempalan dan musuhnya yang juga ada di EROPA seperti Lenin, Stalin dan Mussolini adalah psikopat lain yang tak kalah sadis dengan dirinya. Lenin dengan teori-teorinya yang provokatif sanggup meniup angin kematian bagi jutaan rakyatnya dengan program kelaparan dan isolasi. Hal yang sama juga dilakukan penerusnya sang tangan besi Stalin yang masih menerapkan ‘Program Teror Kematian’ bagi jutaan rakyat yang sudah ngos-ngosan sejak Lenin. Mussolini juga gak ada yang kurang dengan kekejaman fasis yang diusungnya. Kendati pada akhirnya harus berakhir tragis di bantai rakyatnya sendiri dan digantung ditiang listrik bagai daging sapi dirumah jagal.
Sejarah sudah banyak mencatat negarawan psikopat yang tersebar hampir disudut dunia dan selalu saja menjadi sejarah kelabu kekejaman prilaku manusia yang tak terperikan.
Sebelum Ryan, kita sudah diakrabi psikopat Dukun AS yang belakangan sudah meregang nyawa didepan regu tembak. Dukun AS adalah satu dari psikopat lainya yang tak bisa dilepaskan dari catatan kelam pembunuhan berseri di ranah Indonesia. Kekejaman Dukun AS dalam membunuh para korbanya memberi inspirasi bagi insan perfilman dan kini film dukun AS pun sudah beredar jauh sebelum dirinya dieksekusi.
Psikopat, ya, kita kadang bergidik melihat aksi mereka. Semoga kita mampu mengarahkan anak kita ke jalan yang benar. [Halim El Bambi]
Woh… Menakutkan.
Kalau mengingat masa lalu, pembaitain masyarakat di masa DOM, siapa yang bertanggung jawab, apakah orang tersebut juga bisa disebutkan psikopat.
Setiap orang berpeluang menjadi psikopat…
Pada dasarnya fitrah manusia adalah baik, akan tetapi input yang masuk kedalam pikiran, baik berasal dari lingkungan atau media ikut berperan dalam membentuk watak seseorang.
Tasawuf saya pikir adalah salah satu solusi yang sangat ampuh dalam mendidik manusia menjadi lebih baik, menjadi manusia yang dekat dengan Tuhan….
Sebagian besar ummat Islam sudah melupakan pelatihan spiritual seperti yang di ajarkan Nabi, yaitu Suluk/Iktikaf, disanalah proses pencucian rohani berlangsung dibawah bimbingan seorang yang ahli.
Tasawuf adalah inti Islam, tanpa ini justru akan melahirkan psikopat-psikopat jenis baru yang berbaju agama, membunuh manusia atas nama Agama, mengatas namakan Tuhan,
Bukankah ini akan lebih berbahaya?
Saya sepakat dengan SUFi. Sejujurnya kita berpeluang menjadi seorang psikopat, namun kadarnya apakah lebih condong ke arah psikopat aktif atau hanya sebagai psikopat pasif. Psikopat aktif bagi saya adalah manusia yang mempunyai masalah kejiwaan yang akut dan sulit untuk dikendalikan karena sudah menjadi ‘dunianya’ yang kelam. Sementara itu psikopat pasif adalah manusia yang mempunyai jiwa-jiwa yang memang naturalis, yang sudah ada dalam diri sejak dilahirkan melalui GEN dan cenderung bisa di kontrol.
saya yakin dalam diri kita punya satu kata AMBISI, ini merupakan satu kata yang tidak bisa kita lepaskan dari hidup ini. Bahwa kita berambisi menjadi manusia yang taat kepada Allah, ini hal bagus. Punya ambisi agar ibadah kita lebih mantaf lagi, ini juga hal positif. Namun apabila AMBISI ini diarahkan pada tempat yang berlebihan, maka yang terjadi adalah para ambisius psikopat yang menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi-ambisinya yang cenderung negatif.
Saya sudah tulis tentang psikopat ini di sebuah blog tetangga: http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/07/31/kasus-ryan-dan-9-tanda-pria-psikopat/
Saya menyebutkan bahwa psikopat itu diarahkan pada manusia yang punya kejiwaan yang cenderung berlebihan atau tidak normal. Bagi yang normal, maka kita adalah bagian dari psikopat itu sendiri karena ciri-ciri psikopat yang disampaikan jutaan psikolog semuanya ada dalam diri kita masing-masing, cuma kadarnya mungkin masih dibatas normal, tidak berlebihan. Setiap manusia punya rasa emosi, privacy, likeable, charming, intelek, perhatian, impresif, punya pede tinggi, dan pintar merayu (karena itu mereka mudah “menipu” perempuan) dst seperti yang disampaikan Dr. Hervey Cleckley. Namun bagi manusia yang bisa mengendalikan semua sifat dalam dirinya hingga tahaf positif mungkin belum bisa di sebut psikopat. Kecenderungan psikopat hanya berlaku bagi manusia-manusia yang tidak mampu mengelola keperibadian (kejiwaannya) hingga dia lepas kontrol. Kejiwaan yang akut yang tidak bisa dikendalikan ini bisa mengarahkan seseorang ke jurang kehancuran. Sekali lagi, kita punya kecenderungan menjadi seorang psikopat apabila kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan semua aura yang kita anggap negatif itu ke aura positif. Kita tidak pernah suka dituduh sebagai psikopat, tapi kadang-kadang sifat psikopat ada dalam diri kita walau dalam kadar yang masih normal. Dan jangan salah, jiwa-jiwa sakit bukan hanya ada dalam diri manusia biasa tapi juga banyak menghinggapi orang-orang besar (pemimpin) dunia seperti yang saya ulas di tulisan diatas.
Saleum
HELB
Saleum…
Menarik pembahasan saudara Halim tentang psikopat, dan sekarang ini banyak kita membaca kasus yang terjadi di daerah aceh sendiri itu adalah bagian dari psikopat
yang menjadi bahan renungan dan pembahasan untuk kelanjutannya adalah mengurangi orang-orang psikopat, atau dengan kata lain, membantu orang-orang jangan sampai GEN psikopat yang memang ada dalam diri setiap manusia itu meningkat..
Terimonggeunaseh…
sekarang juga banyak psikopat terutama di lingkungan bung halim di aceh yang suka vonis sesat….
muslem gaul
Untuk Bung Muslem Gaul, bisa di jelaskan detail penjelasan ‘Vonis sesat’ di Aceh ini?
Protes malaikat jadi benar tuh…
To Bung Muslem Gaul, sebaiknya saudara tidak menuliskan yang berbau mendiskreditkan seperti itu
PEACE
DAMN !! aku seorang PSIKOPAT..
berati saya termasuk psicopat >