Siapa yang tidak kenal yang namanya belut. Kalau di Aceh belut disebut ileh. Itu lho, hewan yang licin legit dan sulit untuk ditangkap. Eh, ingat belut kok jadinya ingat juga para koruptor di Indonesia yang sulit ditangkap, istilahnya licin bagai belut.
Siapa sangka hewan yang rada-rada mirip ular ini (walah kalau melihatnya kadang geli dan syerem juga) ternyata adalah sumber protein tinggi buat tubuh kita. Sebetulnya belut sejenis ikan yang punya nama latin monopterus albus. Belut biasa hidup dan berkembangbiak di habitatnya seperti persawahan, rawa-rawa atau tempat-tempat yang berlumpur seperti pinggiran sungai atau parit. Banyak orang memburu belut karena katanya mengandung gizi yang tinggi dan mamfaat maknyus lainya seperti katanya sih bisa meningkatkan gairah laki-laki. Bagi yang punya korengan atau gatal-gatal bisa juga bisa mengkonsumsi belut agar koreng bisa cepat sembuh dan kulitpun kembali mulus (gak gitaran lagi lah).
Di Aceh yang alamnya lembab dengan curah hujan yang tinggi adalah surga buat belut, apalagi sawahnya yang dikenal sangat begitu luas. Hal ini merupakan rumah buat belut untuk beranak pinak. Kadang-kadang sih bu tani sebal juga karena sering kagetan saat menanam padi di sawah. Sebabnya ya itu, belut suka keluar karena kena injak atau kelelep. Jadinya terpaksa harus nongol dari sarang untuk membuat jantungan bu tani yang mengira ular.
Aku sih sering memancing belut di parit atau sungai buat senang-senang aja. Tapi tidak untuk dimakan. Soalnya aku rada jijik atau ngeri makan belut karena mirip ular hehehe. Kadang-kadang pancingan aku ditarik sangat kuat dan aku pikir itu ikan yang besar. Namun setelah aku angkat nyatanya sang belut yang lagi melingkari tali pancingan meronta-ronta. Karena kaget, sering belut yang sedang sekarat di mata kail aku banting-banting di tanah agar terlepas dari kail. Tapi, yah, susah mah lepasin belut dari mata kail. Soalnya belut sangat rakus terhadap umpan yang kita kasih. Karena belut rakus, sering umpan kail dia telan sampai ke lambungnya. Kalau sudah begini, cara melepaskan mata kail akhirnya sedikit sadis, yaitu belut pun kita jagal langsung perutnya ampe modar. Habis mo gimana lagi, udah bikin kaget, nyusahin lagi hehehehe.
Kalau di Bambi, aku sering mancing belut di sungai Neulhop Sagop. Disini terdapat bendungan sungai untuk mengaliri air ke semua sawah. Di Hilir bendungan inilah sering belut main-main dan jadi sasaran empuk buat mata kail kita-kita. [Halim El Bambi]
Belut ini juga punya efek sangat baik untuk kita-kita yang sudah atau akan berkeluarga=)
Kami di Nagan sering menyebutnya dengan Ileieh